Kamis, 19 Februari 2026

Kiprah Sajadah Merah



Di sebuah masjid kecil di pinggiran desa, tersimpan sebuah sajadah tua berwarna merah. Warnanya sudah pudar, bercampur antara merah yang luntur dengan bercak kehitaman di bagian tengah—tempat dahi para hamba bersujud. Polanya sederhana: gambar masjid dengan kubah dan menara, diapit pohon kurma yang seakan melambai. Namun, keindahan itu sudah lama terkikis oleh waktu. Benang-benangnya mulai renggang, serat kainnya kasar, dan di beberapa sudut tampak robekan kecil yang dijahit seadanya. Masaih ada label merk pada bagian bawah. Bergamnbar pedang. Masih bisa dibaca. Dan bagi yang sudah pernah membaca pasti ingat itu tulisan made in turkey. Ya barangkali itu sajadah hadiah oleh oleh dari TKW yang menghibahkanya ke masjid. Atau barangkali juga oleh-oleh haji. Ya… barangkali….


Sajadah itu bukan sembarang sajadah. Ia sudah berusia puluhan tahun, mungkin lebih tua dari sebagian jamaah yang kini rutin menggunakannya. Konon, sajadah merah itu adalah warisan dari seorang imam masjid pertama di desa tersebut. Imam itu wafat lebih dari tiga dekade lalu, tetapi sajadahnya tetap ada, menjadi saksi bisu perjalanan ibadah generasi demi generasi. Ooo ternyata begitu. Warisane simbah…..

Nampak jelas sekali, Jejak Waktu di Serat Kain. Setiap kali seseorang menundukkan kepala di atas sajadah merah itu, seakan ada bisikan lembut dari masa lalu. Bekas hitam keputihan di bagian tengah bukan sekadar noda; itu adalah jejak ribuan sujud. Ada yang bersujud dengan air mata, ada yang bersujud dengan hati penuh syukur, ada pula yang bersujud dengan beban berat yang ingin dilepaskan. Semua bercampur, menyatu dalam serat kain lusuh itu.

Jarang sekali sajadah itu dicuci. Mungkin hanya setahun sekali, ketika pengurus masjid membersihkan seluruh perlengkapan. Nek kelingan. Atau nek sempat.  Bahkan setelah dicuci, bau lembut kain tua tetap melekat. Kadang juga bercampur dengan wewangian yang dipakai oleh jamaah tua. Sekedar menghilangkan bau khas sajadah tua.

Kadang ia disimpan di lemari masjid, bercampur dengan sarung dan mukena. Namun, entah mengapa, jamaah tertentu selalu memilih sajadah merah itu. Seakan ada daya tarik yang tak bisa dijelaskan.

Ada cerita tentang kisah sajadah itu. Sebutlah Pak Rahman, sebab nek disebut Mawar nanti dikira cerita lain. Pak Rahman ialah imam masjid yang menggantikan pendahulunya. Ia sudah renta, jalannya pelan, suaranya bergetar ketika membaca ayat-ayat suci. Namun, setiap kali ia memimpin shalat, ia selalu memilih sajadah merah itu. Katanya, sajadah itu membuatnya merasa dekat dengan gurunya yang dulu. "Setiap seratnya menyimpan doa," ujarnya suatu kali. "Kalau aku bersujud di atasnya, aku merasa doa-doa para pendahulu ikut menguatkan."

Lain cerita disampaikan oleh Ndindik, Si Anak Desa yang konon kini sudah sukses di jalanya. Ndindik adalah anak muda yang dulu sering bermain di halaman masjid. Ia nakal (ups..), sering berlari-lari hingga ditegur jamaah. Namun, ketika ayahnya meninggal, ia mulai rajin shalat. Anehnya, ia selalu mencari sajadah merah itu. Katanya, ia merasa ayahnya pernah bersujud di atasnya. "Aku ingin melanjutkan jejak ayah," bisiknya pada seorang teman. Sajadah itu menjadi penghubung antara dirinya dan kenangan ayahnya.

Beda lagi cerita Parinah, Si Penjual Warung Meniran. Parinah adalah perempuan sederhana yang membuka warung kecil di dekat masjid. Ia sering datang shalat dhuha ketika warungnya sepi. Ia memilih sajadah merah karena menurutnya sajadah itu paling nyaman, meski lusuh. "Ada ketenangan yang berbeda," katanya. "Seperti dipeluk masa lalu." Nah kan….

 

Rahasia Sajadah Merah. Ini kutulkis saja biar tambah gayeng ceritanya…. Orang-orang mulai percaya bahwa sajadah merah itu bukan sekadar kain. Ia adalah saksi, penyimpan rahasia doa-doa yang tak pernah terucap. Ada doa-doa yang bergerak… Ada cerita bahwa seorang jamaah pernah menangis berjam-jam di atas sajadah itu, memohon kesembuhan anaknya. Beberapa bulan kemudian, anak itu sembuh. Ada pula kisah seorang pemuda yang gelisah karena hutang, lalu bersujud di atas sajadah merah, dan tak lama kemudian ia mendapat rezeki tak terduga. Ada juga yang gelisah karena tidak punya anak. Diatas sajadah itu dia berdoa. Alhamdulillah kini anaknya sudah mulai mengaji Alif ba Ta pada Pak Rahman. Juga si pemuda yang diparabi Badak. Bersujud kepada Allah memohoin untuk bisa lulus ujian menjadi Polisi. Kini sudah berpangkat Sersan.

Apakah itu kebetulan? Atau memang sajadah itu membawa keberkahan? Tak ada yang tahu pasti. Namun, keyakinan jamaah semakin kuat. Sajadah merah menjadi semacam simbol: bahwa doa yang tulus, meski di atas kain lusuh, akan tetap sampai kepada Tuhan.

***

Puluhan tahun berlalu. Masjid itu direnovasi, dindingnya dicat ulang, lantainya diganti dengan keramik mengkilap. Karpet baru dibeli, mukena baru disediakan. Namun, sajadah merah tetap ada. Ia tak tergantikan. Meski warnanya semakin pudar, meski benangnya semakin rapuh, jamaah tetap menjaganya.

Ada yang mengusulkan agar sajadah itu dipajang saja, dijadikan kenang-kenangan. Namun, Pak Rahman menolak. "Sajadah itu bukan untuk dipajang," katanya. "Ia harus tetap dipakai, karena ia hidup dari sujud kita."

Suatu malam Ramadhan, masjid itu penuh sesak. Jamaah berdesakan, mencari tempat untuk shalat malam. Di tengah keramaian, sajadah merah itu kembali digelar. Seorang pemuda asing, yang baru pertama kali datang ke desa itu, kebetulan mendapat sajadah merah. Ia bersujud lama sekali, lebih lama dari jamaah lain. Air matanya menetes, membasahi kain lusuh itu. Ya…. Dia adalah Ki Sabda Lelana. Pemuda yang kata-katanya menggambarkan pengembaraan spiritual. Mampu bercerita kemana-mana meski dia hanya terlihat duduk. Qodarullah (kehendak Allah)

Setelah shalat, ia duduk termenung. Ketika ditanya, ia berkata, "Aku merasa ada yang berbeda. Seakan sajadah ini menyimpan doa-doa orang sebelumku. Aku merasa ringan, seolah beban hidupku diangkat."

Sejak malam itu, cerita tentang sajadah merah semakin menyebar. Orang-orang percaya bahwa sajadah itu membawa keberkahan khusus di malam Lailatul Qadar. Sajadah merah hanyalah kain. Ia tidak bisa berbicara, tidak bisa bergerak. Namun, ia menyimpan jejak manusia. Setiap lipatan, setiap noda, adalah cerita. Ia adalah saksi bisu perjalanan iman sebuah desa. Ia mengingatkan bahwa ibadah bukan tentang kemewahan, melainkan tentang ketulusan. Bahwa sujud di atas kain lusuh pun bisa menjadi jalan menuju Tuhan.

***

Kini, sajadah merah itu semakin rapuh. Mungkin suatu hari ia akan benar-benar hancur, tak bisa lagi digunakan. Namun, kenangan tentangnya akan tetap hidup. Anak-anak desa akan menceritakan pada cucu mereka: tentang sajadah merah yang lusuh, yang pernah menjadi teman sujud puluhan tahun, yang menyimpan doa-doa tak terhitung jumlahnya.

Dan ketika sajadah itu akhirnya tak lagi ada, doa-doa yang pernah menempel padanya akan tetap terbang ke langit, menemani para hamba yang pernah bersujud di atasnya.

Cerita ini bukan tentang benda semata, melainkan tentang makna. Sajadah merah adalah simbol perjalanan iman, simbol ketulusan, simbol hubungan manusia dengan Tuhannya. Ia mengajarkan bahwa yang sederhana bisa menjadi saksi agung. Bahwa kain lusuh pun bisa menyimpan keabadian. Dan cerita iini hanya fiktif belaka….. nek ada yang sama itu pasti kebetulan. Paham sih ?

 

 

Kang Didin Sabda lelana

(Kendal 20-02-2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar