Di sebuah masjid kecil di pinggiran desa, tersimpan sebuah sajadah tua berwarna merah. Warnanya sudah pudar, bercampur antara merah yang luntur dengan bercak kehitaman di bagian tengah—tempat dahi para hamba bersujud. Polanya sederhana: gambar masjid dengan kubah dan menara, diapit pohon kurma yang seakan melambai. Namun, keindahan itu sudah lama terkikis oleh waktu. Benang-benangnya mulai renggang, serat kainnya kasar, dan di beberapa sudut tampak robekan kecil yang dijahit seadanya. Masaih ada label merk pada bagian bawah. Bergamnbar pedang. Masih bisa dibaca. Dan bagi yang sudah pernah membaca pasti ingat itu tulisan made in turkey. Ya barangkali itu sajadah hadiah oleh oleh dari TKW yang menghibahkanya ke masjid. Atau barangkali juga oleh-oleh haji. Ya… barangkali….
Sajadah itu bukan sembarang sajadah. Ia sudah berusia
puluhan tahun, mungkin lebih tua dari sebagian jamaah yang kini rutin
menggunakannya. Konon, sajadah merah itu adalah warisan dari seorang imam
masjid pertama di desa tersebut. Imam itu wafat lebih dari tiga dekade lalu,
tetapi sajadahnya tetap ada, menjadi saksi bisu perjalanan ibadah generasi demi
generasi. Ooo ternyata begitu. Warisane simbah…..
Nampak jelas sekali, Jejak Waktu di Serat Kain. Setiap kali
seseorang menundukkan kepala di atas sajadah merah itu, seakan ada bisikan
lembut dari masa lalu. Bekas hitam keputihan di bagian tengah bukan sekadar
noda; itu adalah jejak ribuan sujud. Ada yang bersujud dengan air mata, ada
yang bersujud dengan hati penuh syukur, ada pula yang bersujud dengan beban
berat yang ingin dilepaskan. Semua bercampur, menyatu dalam serat kain lusuh
itu.
Jarang sekali sajadah itu dicuci. Mungkin hanya setahun
sekali, ketika pengurus masjid membersihkan seluruh perlengkapan. Nek kelingan.
Atau nek sempat. Bahkan setelah dicuci,
bau lembut kain tua tetap melekat. Kadang juga bercampur dengan wewangian yang
dipakai oleh jamaah tua. Sekedar menghilangkan bau khas sajadah tua.
Kadang ia disimpan di lemari masjid, bercampur dengan sarung
dan mukena. Namun, entah mengapa, jamaah tertentu selalu memilih sajadah merah
itu. Seakan ada daya tarik yang tak bisa dijelaskan.
Ada cerita tentang kisah sajadah itu. Sebutlah Pak Rahman,
sebab nek disebut Mawar nanti dikira cerita lain. Pak Rahman ialah imam masjid
yang menggantikan pendahulunya. Ia sudah renta, jalannya pelan, suaranya
bergetar ketika membaca ayat-ayat suci. Namun, setiap kali ia memimpin shalat,
ia selalu memilih sajadah merah itu. Katanya, sajadah itu membuatnya merasa
dekat dengan gurunya yang dulu. "Setiap seratnya menyimpan doa,"
ujarnya suatu kali. "Kalau aku bersujud di atasnya, aku merasa doa-doa
para pendahulu ikut menguatkan."
Lain cerita disampaikan oleh Ndindik, Si Anak Desa yang
konon kini sudah sukses di jalanya. Ndindik adalah anak muda yang dulu sering
bermain di halaman masjid. Ia nakal (ups..), sering berlari-lari hingga ditegur
jamaah. Namun, ketika ayahnya meninggal, ia mulai rajin shalat. Anehnya, ia
selalu mencari sajadah merah itu. Katanya, ia merasa ayahnya pernah bersujud di
atasnya. "Aku ingin melanjutkan jejak ayah," bisiknya pada seorang
teman. Sajadah itu menjadi penghubung antara dirinya dan kenangan ayahnya.
Beda lagi cerita Parinah, Si Penjual Warung Meniran. Parinah
adalah perempuan sederhana yang membuka warung kecil di dekat masjid. Ia sering
datang shalat dhuha ketika warungnya sepi. Ia memilih sajadah merah karena
menurutnya sajadah itu paling nyaman, meski lusuh. "Ada ketenangan yang
berbeda," katanya. "Seperti dipeluk masa lalu." Nah kan….
Rahasia Sajadah Merah. Ini kutulkis saja biar tambah gayeng
ceritanya…. Orang-orang mulai percaya bahwa sajadah merah itu bukan sekadar
kain. Ia adalah saksi, penyimpan rahasia doa-doa yang tak pernah terucap. Ada
doa-doa yang bergerak… Ada cerita bahwa seorang jamaah pernah menangis
berjam-jam di atas sajadah itu, memohon kesembuhan anaknya. Beberapa bulan
kemudian, anak itu sembuh. Ada pula kisah seorang pemuda yang gelisah karena
hutang, lalu bersujud di atas sajadah merah, dan tak lama kemudian ia mendapat
rezeki tak terduga. Ada juga yang gelisah karena tidak punya anak. Diatas sajadah
itu dia berdoa. Alhamdulillah kini anaknya sudah mulai mengaji Alif ba Ta pada Pak
Rahman. Juga si pemuda yang diparabi Badak. Bersujud kepada Allah memohoin
untuk bisa lulus ujian menjadi Polisi. Kini sudah berpangkat Sersan.
Apakah itu kebetulan? Atau memang sajadah itu membawa
keberkahan? Tak ada yang tahu pasti. Namun, keyakinan jamaah semakin kuat.
Sajadah merah menjadi semacam simbol: bahwa doa yang tulus, meski di atas kain
lusuh, akan tetap sampai kepada Tuhan.
***
Puluhan tahun berlalu. Masjid itu direnovasi, dindingnya
dicat ulang, lantainya diganti dengan keramik mengkilap. Karpet baru dibeli,
mukena baru disediakan. Namun, sajadah merah tetap ada. Ia tak tergantikan.
Meski warnanya semakin pudar, meski benangnya semakin rapuh, jamaah tetap
menjaganya.
Ada yang mengusulkan agar sajadah itu dipajang saja,
dijadikan kenang-kenangan. Namun, Pak Rahman menolak. "Sajadah itu bukan
untuk dipajang," katanya. "Ia harus tetap dipakai, karena ia hidup
dari sujud kita."
Suatu malam Ramadhan, masjid itu penuh sesak. Jamaah
berdesakan, mencari tempat untuk shalat malam. Di tengah keramaian, sajadah
merah itu kembali digelar. Seorang pemuda asing, yang baru pertama kali datang
ke desa itu, kebetulan mendapat sajadah merah. Ia bersujud lama sekali, lebih
lama dari jamaah lain. Air matanya menetes, membasahi kain lusuh itu. Ya…. Dia
adalah Ki Sabda Lelana. Pemuda yang kata-katanya menggambarkan pengembaraan
spiritual. Mampu bercerita kemana-mana meski dia hanya terlihat duduk. Qodarullah
(kehendak Allah)
Setelah shalat, ia duduk termenung. Ketika ditanya, ia
berkata, "Aku merasa ada yang berbeda. Seakan sajadah ini menyimpan
doa-doa orang sebelumku. Aku merasa ringan, seolah beban hidupku
diangkat."
Sejak malam itu, cerita tentang sajadah merah semakin
menyebar. Orang-orang percaya bahwa sajadah itu membawa keberkahan khusus di
malam Lailatul Qadar. Sajadah merah hanyalah kain. Ia tidak bisa berbicara,
tidak bisa bergerak. Namun, ia menyimpan jejak manusia. Setiap lipatan, setiap
noda, adalah cerita. Ia adalah saksi bisu perjalanan iman sebuah desa. Ia
mengingatkan bahwa ibadah bukan tentang kemewahan, melainkan tentang ketulusan.
Bahwa sujud di atas kain lusuh pun bisa menjadi jalan menuju Tuhan.
***
Kini, sajadah merah itu semakin rapuh. Mungkin suatu hari ia
akan benar-benar hancur, tak bisa lagi digunakan. Namun, kenangan tentangnya
akan tetap hidup. Anak-anak desa akan menceritakan pada cucu mereka: tentang
sajadah merah yang lusuh, yang pernah menjadi teman sujud puluhan tahun, yang
menyimpan doa-doa tak terhitung jumlahnya.
Dan ketika sajadah itu akhirnya tak lagi ada, doa-doa yang pernah menempel padanya akan tetap terbang ke langit, menemani para hamba yang pernah bersujud di atasnya.
Cerita ini bukan tentang benda semata, melainkan tentang
makna. Sajadah merah adalah simbol perjalanan iman, simbol ketulusan, simbol
hubungan manusia dengan Tuhannya. Ia mengajarkan bahwa yang sederhana bisa
menjadi saksi agung. Bahwa kain lusuh pun bisa menyimpan keabadian. Dan cerita
iini hanya fiktif belaka….. nek ada yang sama itu pasti kebetulan. Paham sih ?
Kang Didin Sabda lelana
(Kendal 20-02-2026)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar